TNews, BITUNG– Gelar Adat Tulude 2026 dipastikan siap digelar. Panitia pelaksana menyebutkan progres persiapan telah mencapai sekitar 95 persen, dengan gladi bersih dijadwalkan berlangsung sore ini dan puncak acara dilaksanakan besok hari Jumat 30 Januari 2026.
Ketua Panitia, Alfred Salindeho, SE, mengungkapkan bahwa pelaksanaan Tulude tahun ini mengadopsi pola baru yang menitikberatkan pada kolaborasi antara Ikatan Keluarga Sangihe, Sitaro, dan Talaud (IKSSAT) bersama Pemerintah Kota Bitung.
Perubahan ini dilakukan sebagai respons terhadap kebijakan efisiensi anggaran daerah.
“Model pelaksanaan tahun ini berbeda. Tidak sepenuhnya dibiayai APBD seperti sebelumnya.
Panitia ikut mengambil peran pembiayaan sebagai bentuk tanggung jawab bersama agar kegiatan adat tetap berjalan,” ujar Alfred. Kamis, 29/1/2026.
Sejumlah kegiatan pendukung yang sebelumnya ke masing-masing Kecematan, kini terpusat di Lapangan Pemkot Kota Bitung.
Konsep ini berdampak pada penyesuaian acara, termasuk peniadaan pawai budaya dan digantikan dengan kehadiran stand per kecamatan.
Delapan kecamatan akan menampilkan tenda masing-masing dengan sajian khas daerah.
Seluruh kebutuhan konsumsi, dekorasi, hingga makanan tradisional seperti ubi-ubian menjadi tanggung jawab kecamatan, sementara panitia memfokuskan perhatian pada pelaksanaan prosesi adat di panggung utama.
Tak hanya itu, panitia juga melibatkan tujuh komunitas budaya untuk meramaikan rangkaian acara yang akan dimulai pukul 14.00 WITA hingga malam hari.
Berbagai lomba budaya turut digelar dengan total hadiah mencapai Rp33 juta yang sepenuhnya dibiayai panitia.
Menurut Alfred, konsep kolaboratif ini diharapkan dapat menjadi contoh penyelenggaraan kegiatan budaya yang lebih mandiri ke depan, sekaligus memberi ruang bagi pemerintah untuk memprioritaskan anggaran pada sektor lain yang bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
“Efek ekonominya jelas terlihat.
UMKM bergerak, penyedia jasa dan pedagang lokal ikut merasakan manfaat. Budaya bukan hanya soal tradisi, tapi juga penggerak ekonomi,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Tulude memiliki makna lebih dari sekadar seremoni tahunan.
Tradisi ini merupakan bagian penting dari pelestarian nilai budaya dan identitas masyarakat Sangihe, Talaud, dan Sitaro yang telah terjalin lama dalam IKSSAT.
Ke depan, panitia mendorong adanya regenerasi budaya melalui pelibatan generasi muda, termasuk lewat lomba-lomba budaya di kalangan pelajar agar nilai-nilai adat tetap hidup dan berkelanjutan.
Alfred juga optimistis Gelar Adat Tulude berpotensi dikembangkan sebagai atraksi wisata budaya jika dikemas secara konsisten dan profesional.
“Keunikan budaya tradisional justru menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Ini peluang besar bagi pengembangan pariwisata daerah,” pungkasnya.
Dengan kesiapan yang hampir rampung, Gelar Adat Tulude 2026 diharapkan berjalan sukses dan menjadi simbol sinergi antara masyarakat, budaya, dan pemerintah.







