TNews, BITUNG- Perayaan Prosesi Keagamaan Goan Siao/Cap Go Meh 2577 Kongzili di Kota Bitung berlangsung semarak dan penuh khidmat pada Selasa, 03/03/2026.
Kegiatan yang dipusatkan di Klenteng Seng Bo Kiong, Kelurahan Kadoodan Lingkungan III/RT 13, Kecamatan Madidir, ini dihadiri sekitar seribu orang yang terdiri dari tamu undangan, peserta parade, pengunjung, hingga insan pers.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 15.30 WITA dengan persiapan peserta, kemudian dilanjutkan penyusunan barisan pada pukul 16.00 WITA.
Parade ritual secara resmi dilepas oleh Wali Kota Bitung Hengky Honandar SE dan Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka S.Sos (HH-RM) bersama unsur Forkopimda dari depan klenteng.
Arak-arakan menempuh jarak kurang lebih dua kilometer, mengambil rute dari Klenteng Seng Bo Kiong melalui Jalan A.A. Maramis menuju Jalan Martadinata (Pertigaan Inkoasku), berbalik arah ke Jalan A.A. Maramis, kemudian menuju Jalan H.V. Worang melintasi Bangsal Utama di depan Rumah Dinas Wali Kota Bitung, sebelum akhirnya kembali finis di klenteng sekitar pukul 19.00 WITA.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wali Kota Bitung Hengky Honandar SE, didampingi istri Ny Ellen Honandar Sondakh, serta Wakil Wali Kota Bitung Randito Maringka S.Sos didampingi Istri Ny Jacinta Marybell Maringka Gumolung.
Hadir pula unsur TNI-Polri, pimpinan dan anggota DPRD, Sekda Kota Bitung Bpk Ir. Ignatius Rudy Theno ST MT, jajaran kepala OPD, pengurus FKUB, pengurus klenteng, Ketua Panitia Lee Jia Hao, serta berbagai elemen masyarakat.
Kehadiran lintas unsur pemerintahan dan tokoh agama ini menjadi simbol kuat dukungan terhadap pelestarian budaya Tionghoa sekaligus wujud nyata toleransi antarumat beragama di Kota Bitung.
Atraksi Budaya dan Ritual Sakral
Parade Cap Go Meh menampilkan perpaduan barisan non-ritual dan ritual.
Peserta non-ritual menghadirkan spanduk Goan Siao, penampilan seni budaya, mobil hias, hingga partisipasi organisasi perempuan dan perangkat daerah.
Sementara barisan ritual memancarkan nuansa sakral melalui spanduk Hong Tiau, Uh Sun, Kok Tai Ping An, sepasang gong, barisan Lima Jenderal (Ngo Heng Yang), pasukan 36 bendera, barongsai, naga hijau, Hok Lok Siu, hingga kereta hias dan kio (usungan suci) yang membawa simbol-simbol keagamaan seperti Lo Cia, Kwan Seng Te Kun, Ma Co, Cai Sen Ya, Kwan In, dan Thiang Siang Seng Bo.
Cap Go Meh sendiri merupakan puncak sekaligus penutup rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek yang jatuh pada hari ke-15 bulan pertama penanggalan lunar.
Dalam wawancara usai kegiatan, Wali Kota Bitung, Hengky Honandar SE, yang didampingi Wakil Wali Kota Randito Maringka S.Sos, menegaskan bahwa pemerintah kota memberikan dukungan penuh terhadap pelaksanaan festival tersebut.

Menurutnya, perayaan Cap Go Meh tidak hanya menjadi kegiatan keagamaan dan tradisi budaya masyarakat Tionghoa, tetapi juga bagian dari pengembangan sektor pariwisata daerah.
“Pemerintah tentu mendukung penuh kegiatan seperti ini.
Ini bukan hanya perayaan keagamaan dan budaya, tetapi juga bagian dari sektor pariwisata yang harus kita dorong bersama. Ke depan, kualitasnya perlu terus kita tingkatkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah dan masyarakat merupakan kunci keberhasilan kegiatan. Semua pihak memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga potensi dan keharmonisan daerah.
Festival Cap Go Meh di Kota Bitung sendiri telah menjadi agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.
Setiap pelaksanaannya dipadati warga yang ingin menyaksikan kemeriahan parade.
“Setiap ada kegiatan seperti ini, masyarakat selalu hadir dan memberikan dukungan.
Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan toleransi di Kota Bitung tetap terjaga,” tambahnya.
Perayaan Cap Go Meh 2577 pun menjadi simbol kuat persatuan, toleransi, serta komitmen bersama dalam membangun Kota Bitung yang maju, harmonis, dan berdaya saing di sektor pariwisata.







