TNews, BITUNG– Kota Bitung kembali menunjukkan wajah harmoni dalam keberagaman melalui pelaksanaan Upacara Adat Tulude yang digelar Pemerintah Kota Bitung. Jumat, 30/1/2026.
Dalam momentum budaya tersebut, Persatuan Organisasi Lintas Adat, Agama, dan Budaya (POLA) Kota Bitung tampil sebagai salah satu elemen penting yang menegaskan komitmen persatuan lintas identitas.
Ketua POLA Kota Bitung, Puboksa Hutahaean, hadir bersama perwakilan dari 35 organisasi kemasyarakatan yang tergabung dalam POLA. Kehadiran tersebut menjadi simbol kuat sinergi lintas agama, adat, dan budaya dalam menjaga stabilitas sosial di Kota Bitung.
Upacara Tulude tahun ini juga dirangkaikan dengan penganugerahan gelar adat Bataha Ikamanggi Torehe Tulung Banua kepada Wali Kota Bitung, Hengky Honandar, SE. Gelar tersebut memiliki makna sebagai pemimpin yang arif, bijaksana, berintegritas, serta mampu menjaga dan memelihara negeri dengan menjunjung tinggi nilai-nilai adat dan budaya Nusa Utara.
Ketua Umum POLA, Puboksa Hutahaean, tampak mengenakan pakaian adat Nusa Utara dan mengikuti seluruh rangkaian prosesi adat, termasuk ritual khas Tulude.
Menurutnya, keterlibatan POLA dalam kegiatan adat bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari tanggung jawab moral menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
“Upacara Adat Tulude adalah ruang pemersatu. Di sinilah nilai kebersamaan, rasa syukur, dan semangat hidup berdampingan dalam perbedaan terus dirawat,” ujar Puboksa di sela-sela kegiatan.
Ia menegaskan bahwa adat dan budaya memiliki peran strategis sebagai perekat sosial, terutama di kota multikultural seperti Bitung.
“Adat dan budaya adalah fondasi persatuan. Jika dijaga bersama oleh semua elemen, maka kehidupan masyarakat akan tetap harmonis dan damai,” tambahnya.
Puboksa juga menilai penganugerahan gelar adat kepada Wali Kota Bitung memiliki makna filosofis yang mendalam, sebagai bentuk penghormatan terhadap kepemimpinan yang mampu merawat ketertiban, toleransi, dan kedamaian daerah.
“Gelar adat bukan sekadar simbol kehormatan, tetapi pengakuan atas komitmen menjaga kehidupan masyarakat yang rukun dan saling menghargai,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, POLA juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bitung, khususnya Wali Kota Hengky Honandar SE dan Wakil Wali Kota Randito Maringka S.Sos, yang dinilai konsisten membangun komunikasi lintas elemen masyarakat tanpa sekat perbedaan agama, adat, maupun budaya.
“Kepemimpinan yang inklusif dan membuka ruang dialog adalah kunci terciptanya Kota Bitung yang aman dan kondusif,” tegas Puboksa.
Melalui pelestarian tradisi seperti Upacara Adat Tulude, POLA berharap Kota Bitung terus memperkuat persatuan dan stabilitas sosial sebagai kota yang menjunjung tinggi nilai adat, budaya, dan toleransi.
“POLA akan terus berdiri di garis depan menjaga persatuan. Semoga Kota Bitung semakin solid, damai, dan menjadi contoh hidup rukun dalam keberagaman,” pungkasnya.







