Anto Agil: Tawuran Antar Kampung di Bitung Dipicu Ego, Emosi, dan Lem Berbahaya

Pemerhati Kota Bitung, Anto Agil S.Sos dengan Backgraund Foto ilustrasi Tawuran
Pemerhati Kota Bitung, Anto Agil S.Sos dengan Backgraund Foto ilustrasi Tawuran. (Foto.Ist)

TNews, Bitung- Maraknya tawuran antar kampung yang melibatkan generasi muda di Bitung kembali menjadi sorotan.

Pemerhati kota Bitung, Anto Agil S.Sos, menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum semata.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, masalah tawuran jauh lebih kompleks.

Selain faktor ego dan emosi remaja, ia juga menyoroti lemahnya peran keluarga, minimnya ruang positif bagi anak muda, hingga dugaan penyalahgunaan zat berbahaya yang dijual bebas di masyarakat.

“Penanganan hukum memang penting, tapi itu bukan satu-satunya jalan keluar.

Harus ada kesadaran moral, peran keluarga, dan pengawasan yang lebih ketat terhadap zat-zat berbahaya yang beredar di masyarakat,” ujar Anto. Kamis, 11/3/2026.

Anto menekankan bahwa manusia tidak cukup hanya mengandalkan akal dalam bertindak, tetapi juga harus menggunakan hati nurani.

Menurutnya, kelebihan manusia dibanding makhluk lain terletak pada kemampuan menggunakan akal sekaligus hati untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

“Kalau manusia hanya menggunakan otak tanpa hati, maka bisa tersesat bahkan menyesatkan orang lain.

Kesempurnaan manusia itu ada pada keseimbangan antara akal dan hati,” katanya.

Ia menilai, tawuran yang terus berulang menjadi tanda adanya persoalan mendasar di kalangan generasi muda, terutama terkait pengendalian emosi, ego, serta kurangnya ruang untuk menyalurkan aspirasi dan mencari jati diri.

Dalam pandangannya, pemuda di Bitung perlu membangun kesadaran kolektif untuk menjaga persatuan dan keamanan lingkungan.

Anto mengibaratkan kondisi tersebut dengan filosofi sapu lidi.

“Sapu lidi kalau berdiri sendiri-sendiri mudah patah. Tapi kalau diikat menjadi satu, dia kuat dan bisa membersihkan.

Artinya pemuda harus bersatu, hilangkan ego dan emosi berlebihan,” jelasnya.

Ia juga menegaskan bahwa menjaga keamanan lingkungan bukan hanya tugas tokoh pemuda atau aparat, tetapi harus dimulai dari kesadaran setiap individu.

Soroti Penyalahgunaan Lem Berbahaya
Selain faktor sosial, Anto juga menyoroti dugaan penyalahgunaan zat tertentu yang dijual bebas, salah satunya lem Eha-Bond, yang diduga sering disalahgunakan oleh anak-anak dan remaja.

Menurutnya, produk tersebut sebenarnya bukan termasuk narkotika maupun minuman keras.

Namun, kandungan zat di dalamnya bisa berdampak serius pada sistem saraf dan otak.

“Kalau dikaji dari sisi kesehatan, zat itu bisa menyerang saraf otak dan membuat orang kehilangan kontrol.

Ini yang sangat berbahaya bagi generasi muda,” ujarnya.

Ia mengungkapkan bahwa lem tersebut bahkan kerap dibeli oleh anak-anak di bawah usia 15 tahun.

Anto menilai lemahnya pengawasan terhadap penjualan produk tersebut membuka peluang bagi oknum tertentu untuk menjadikannya sebagai bisnis dengan menjual secara bebas kepada anak-anak.

Karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah daerah membuat regulasi khusus terkait penjualan bahan atau produk yang berpotensi disalahgunakan oleh anak-anak dan remaja.

Ia mencontohkan sistem di beberapa negara yang membatasi pembelian produk tertentu berdasarkan usia.

Kalau ada regulasi, penjual harus mencatat siapa yang membeli, berapa usianya, dan berapa jumlah yang dibeli.

Dengan begitu pengawasan lebih mudah dilakukan,” jelasnya.

Terkait penanganan pelaku tawuran, Anto menilai penangkapan dan penahanan saja tidak cukup untuk menyelesaikan masalah secara jangka panjang.

Menurutnya, pendekatan pembinaan, baik dari sisi psikologis maupun sosial, justru lebih penting untuk mencegah kasus serupa terulang.

“Kalau hanya ditangkap lalu dipenjara beberapa waktu, itu bukan solusi substantif. Mereka butuh pembinaan, pendidikan karakter, dan wadah positif untuk menyalurkan energi mereka,” katanya.

Anto mengingatkan bahwa jika masalah ini tidak ditangani secara serius, tawuran dan penyalahgunaan zat berbahaya bisa merusak masa depan generasi muda sekaligus mencoreng citra daerah.

Ini bukan hanya soal keamanan, tapi menyangkut masa depan generasi muda dan nama baik daerah. Semua pihak harus bergerak bersama mencari solusi yang lebih mendasar,” tegasnya.

Ia pun berharap pemerintah daerah bersama aparat keamanan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta keluarga dapat segera mengambil langkah konkret agar kasus tawuran antar kampung di Bitung tidak terus berulang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan